42. AL JALIL (Dzat Yang Maha Luhur) Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Luhur, karena Dia selalu menjaga hamba-hambaNya agar tidak tergelincir dari jalan yang lurus (Al Hafidz), Dia menjamin makan setiap hamba-hambaNya agar bisa menjalankan hukum-hukumNya atau melakukan keta’atan kepada-Nya (Al Muqith) dan memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya setelah diperhitungkan dari sisi manfaat dan mudhoratnya (Al Hasib). Manusia pada dasarnya adalah sesat (tidak tahu jalan yang lurus), kemudian Allah Ta'ala memberikan petunjuk-petunjukNya dan menurunkan Rasul-RasulNya serta Malaikat-malaikatNya. Manusia pada dasarnya adalah lemah, kemudian Allah Ta'ala menjamin makan sehingga badannya menjadi kuat untuk menjalankan hukum-hukumNya. Manusia pada dasarnya adalah bodoh tidak tahu mana yang manfaat dan mana yang mudhorat, kemudian Allah Ta'ala memilihkan pemberian-Nya yang bermanfaat saja. Semua itu Allah Ta'ala lakukan karena Dia sangat menginginkan agar hamba-hambaNya bisa selamat didunia dan diakhirat. Oleh sebab itu Allah Ta'ala sangat berhak untuk dipuji dengan keluhuran-Nya. Apabila ada orang yang tidak selamat diakhirat kelak adalah disebabkan karena kesalahan dan kebodohannya sendiri. Karena dia tidak mau menempuh jalan yang lurus yaitu patuh kepada Allah Ta'ala. Padahal dengan asma’-asma-Nya Allah Ta'ala telah menyiapkan segala kebutuhan hamba-hambaNya, menjaganya dan berkeinginan untuk menyelamatkannya. Akan tetapi banyak sekali manusia yang justru lebih patuh kepada hawa nafsu dari pada kepada Allah Ta'ala, sehingga dia tidak bisa selamat diakhirat kelak. Apabila kita bisa meneladani ketiga Asma’ diatas hendaknya kita ingat bahwa kita hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja. Jangan sekali-kali kita minta pujian dari manusia, karena yang berhak dipuji dengan keluhuranNya hanyalah Allah Ta’ala. Didalam agama Islam tidak diajarkan untuk saling hormat-menghormati tetapi yang diajarkan adalah saling menyayangi dan rasa persaudaraan. Apabila seseorang sudah merasa terhormat, apabila ada orang lain yang tidak sopan dengannya maka ia akan tersinggung. Yang diajarkan didalam Islam adalah sopan santun. Bagaimana bersikap kepada orang yang lebih tua, sepadan dan yang lebih muda. Bagaimana bertutur kata dan bertingkah laku yang baik. Jadi Islam mengajarkan akhlaq bukan saling menghormati. Oleh sebab itu Rasulullah SAW menamakan pengikut-pengikutnya sebagai sahabat, bukan murid. Akan tetapi para sahabat sangat sopan, santun dan sayang kepada beliau. Akan tetapi pada saat beliau sebagai orang biasa beliau lebih sopan kepada Abu bakar dan Umar sebagai mertuanya. Memang didalam Islam tidak diajarkan saling menghormati tetapi bukan berarti kita boleh kurang ajar. Karena Allah melarang seorang anak mengatakan “Ah” kepada orang tuanya Apabila seseorang yang menggunakan ilmunya, hartanya dan kekuasaannya untuk membantu orang lain, biasanya ia akan dihormati oleh orang banyak. Akan tetapi perlu diingat bahwa yang berhak dipuji hanyalah Allah. Seharusnya kita merasa malu, karena kita hanya sebatas perantara. Akan tetapi dalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang berlomba-lomba mencari harta, ilmu, kekuasaan agar dihormati oleh orang banyak. Padahal semua itu akan menjerumuskan kita kedalam Neraka. Disebabkan mereka telah merampas hak Allah. Ingat....!? terkadang dalam hati kita tumbuh perasaan tidak dihargai orang lain. Ini adalah keinginan untuk dihormati dan ciri-ciri kesombongan. Sehingga apabila tidak dihormati membuat kita tersinggung. Sebagai contohnya apabila tidak ditegur akan tersinggung, berbicara tidak didengar orang lain akan tersinggung dan lain sebagainya. Oleh sebab itu hati harus selalu kita jaga dan bersihkan. Jangan sampai hati kita penuh dengan kebusukan sehingga menjerumuskan kita kedalam Neraka. Kecuali jika Allah dan RasulNya yang dihina kita harus marah. Rasulullah apabila dirinya sendiri yang dihina tidak marah. Akan tetapi jika Allah dan agamanya yang dihina beliau korbankan jiwa dan hartanya untuk membela. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita mengagungkan Allah Ta'ala dengan sifat keluhuran-Nya? karena Dia selalu menjaga hamba-hambaNya agar tidak tergelincir dari jalan yang lurus (Al Hafidz), Dia menjamin makan setiap hamba-hambaNya agar bisa menjalankan hukum-hukumNya atau melakukan keta’atan kepada-Nya (Al Muqith) dan memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya setelah diperhitungkan dari sisi manfaat dan mudhoratnya (Al Hasib). B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang hanya bergantung kepada-Mu dan cukup bagi Kami hanya Engkaulah sebagai pelindung dan penolong kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin dengan keluhuran Allah Ta'ala, sehingga dia sangat bergantung kepada Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa didalam hatinya tertanam rasa kagum kepada Allah Ta’ala yang begitu luhur, sehingga dia akan selalu memuji Allah Ta’ala dengan keluhuranNya. Dan dia akan merasa malu apabila tidak mengikuti petunjuk-petunjuk dan hukum-hukum yang telah Allah Ta’ala berikan dan dia juga akan bergantung penuh hanya kepada Allah Ta’ala. Orang-orang yang bertaqwa sedikitpun tidak mengurusi pekerjaan Allah Ta'ala. Akan tetapi yang selalu dia fikirkan adalah bagaimana dia bisa selamat diakhirat kelak. Sehingga dia selalu memuji Allah Ta'ala dengan keluhuran-Nya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kiranya kami tidak bergantung kepada siapapun kecuali hanya kepada Engkau. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan segala kebutuhan hidupnya hanya kepada Allah Ta'ala. Dan apapun yang Allah Ta'ala berikan, dia yakini itulah bentuk keluhuran Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Dia sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala yang telah menjaganya dengan menurunkan Kitab dan Rasul, yang telah menjaminnya makan dan memberikan segala sesuatu yang bermanfaat saja. Oleh sebab itu apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya dia terima dengan ikhlas. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Jalil Apabila sudah menjadi kholifah, ia selalu memuliakan orang-orang yang sudah bisa meneladani Asma’ Al Hafidz, Al Muqith dan Al Hasib. Orang yang memiliki Asma’ Al Jalil ini dipilih menjadi kholifah Allah Ta’ala untuk mengabarkan kepada orang lain bahwa orang tersebut memiliki akhlaq yang baik dan patut dicontoh. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Jalil Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu cukuplah mereka bersandar kepada Engkau, dengan jalan menjaga mereka, menafkahkan sebagian harta kepada mereka, dan memilihkan bagi mereka apa yang terbaik bagi mereka. Sehingga mereka dapat melihat keluhuran-Mu dan menjadikan mereka tidak bergantung kepada siapapun kecuali hanya kepada-Mu.